Mengupas Makna Istiwa: Ketinggian dan Keagungan Allah

Ilustrasi simbolis 'Arsy, singgasana Allah yang Maha Agung, sebagai representasi konsep Istiwa'.

Pendahuluan: Memahami Sifat Agung Sang Pencipta

Dalam khazanah akidah Islam, pembahasan mengenai sifat-sifat Allah (Sifatullah) menempati posisi sentral dan fundamental. Ia adalah pondasi keimanan seorang hamba kepada Rabb-nya. Memahami sifat-sifat-Nya sebagaimana Dia menyifati diri-Nya sendiri dalam Al-Qur'an dan sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyifati-Nya dalam As-Sunnah adalah sebuah keharusan. Di antara sekian banyak sifat Allah yang mulia, terdapat satu sifat yang sering menjadi titik pembahasan mendalam di kalangan ulama, yaitu sifat Istiwa' (استواء).

Kata Istiwa' secara literal sering dikaitkan dengan makna ketinggian, kebersemayaman, atau menetap di atas sesuatu. Dalam konteks akidah, istilah ini merujuk secara spesifik kepada firman Allah dalam Al-Qur'an yang menyatakan bahwa Dia ber-Istiwa' di atas 'Arsy. 'Arsy sendiri dipahami sebagai singgasana megah, makhluk Allah yang paling besar dan agung yang melingkupi seluruh langit dan bumi. Pembahasan mengenai Istiwa' menjadi krusial karena ia bersinggungan langsung dengan konsep ke-Maha Tinggian Allah (Al-'Uluw) dan bagaimana seorang mukmin harus meyakini keagungan-Nya tanpa terjerumus ke dalam penyerupaan dengan makhluk (tasybih) ataupun penolakan sifat (ta'thil).

Artikel ini akan mengupas secara komprehensif makna Istiwa' dengan merujuk kepada dalil-dalil primer Islam, yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta menelusuri bagaimana para ulama salafus shalih (generasi terdahulu yang saleh) memahami dan menyikapi sifat ini. Dengan pendekatan yang sistematis, kita akan menjelajahi berbagai aspek, mulai dari dalil-dalil penetapan sifat Istiwa', pandangan para imam mazhab, hingga jawaban atas berbagai kerancuan pemikiran yang mungkin muncul seputar topik yang mulia ini.

Dalil-Dalil Penetapan Sifat Istiwa' dalam Al-Qur'an

Al-Qur'an, sebagai sumber utama ajaran Islam, menyebutkan sifat Istiwa' Allah di atas 'Arsy di tujuh tempat. Penyebutan yang berulang ini menunjukkan betapa pentingnya poin akidah ini untuk diimani oleh setiap Muslim. Ayat-ayat ini menjadi landasan utama bagi para ulama dalam menetapkan sifat ini bagi Allah. Berikut adalah ketujuh ayat tersebut beserta penjelasannya:

1. Surah Al-A'raf, Ayat 54

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia ber-Istiwa' di atas 'Arsy."

Ayat ini menegaskan kuasa penciptaan Allah yang luar biasa, diikuti dengan penegasan sifat Istiwa'-Nya di atas 'Arsy. Rangkaian ini seolah memberitahu kita bahwa setelah menciptakan alam semesta yang maha luas ini, Allah berada di atas singgasana-Nya, mengatur dan mengurus seluruh ciptaan-Nya dengan sempurna. Ini menunjukkan keagungan dan kekuasaan absolut-Nya.

2. Surah Yunus, Ayat 3

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ

"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia ber-Istiwa' di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan."

Mirip dengan ayat sebelumnya, ayat ini juga menghubungkan penciptaan dengan Istiwa'. Namun, di sini ditambahkan frasa "yudabbirul amr" (mengatur segala urusan). Ini memberikan pemahaman yang lebih dalam bahwa Istiwa' Allah di atas 'Arsy bukanlah sekadar "berada di atas", melainkan sebuah posisi keagungan dari mana Dia mengendalikan, mengatur, dan memutuskan semua urusan makhluk-Nya tanpa terkecuali.

3. Surah Ar-Ra'd, Ayat 2

اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

"Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia ber-Istiwa' di atas 'Arsy."

Di sini, Istiwa' dikaitkan dengan salah satu tanda kebesaran Allah yang paling nyata: langit yang terhampar luas tanpa tiang penyangga yang terlihat. Setelah menyebutkan kekuasaan-Nya dalam meninggikan langit, Allah menegaskan Istiwa'-Nya di atas 'Arsy, singgasana yang berada jauh di atas seluruh langit tersebut. Ini semakin memperkuat makna ketinggian dan keagungan Allah.

4. Surah Taha, Ayat 5

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

"(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-Istiwa' di atas 'Arsy."

Ayat ini adalah yang paling ringkas, jelas, dan tegas dalam menyatakan sifat Istiwa'. Penyebutan nama "Ar-Rahman" (Yang Maha Pemurah) sebelum menyatakan Istiwa' memberikan sebuah pesan indah. Istiwa'-Nya di atas 'Arsy bukanlah Istiwa' yang penuh kesombongan atau kezaliman, melainkan Istiwa' yang diliputi oleh rahmat-Nya yang tak terbatas, yang mencakup seluruh alam semesta.

5. Surah Al-Furqan, Ayat 59

الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

"Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia ber-Istiwa' di atas 'Arsy."

Ayat ini sekali lagi mengulang pola yang sama: penciptaan alam semesta, lalu diikuti dengan pernyataan Istiwa'. Konsistensi pola ini dalam Al-Qur'an menunjukkan bahwa akidah ini adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pengenalan seorang hamba kepada Rabb-nya.

6. Surah As-Sajdah, Ayat 4

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

"Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia ber-Istiwa' di atas 'Arsy."

Ayat ini memiliki redaksi yang identik dengan ayat dalam Surah Al-Furqan, yang kembali menegaskan poin akidah yang sama. Pengulangan ini bukan tanpa makna, melainkan untuk menanamkan keyakinan ini secara kokoh di dalam hati kaum mukminin.

7. Surah Al-Hadid, Ayat 4

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

"Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia ber-Istiwa' di atas 'Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada."

Ayat ini sangat penting karena ia menyandingkan sifat Istiwa' (ketinggian Dzat Allah di atas 'Arsy) dengan sifat Ma'iyyah (kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya). Ini menjawab kerancuan yang mungkin timbul: jika Allah di atas 'Arsy, bagaimana Dia bisa bersama kita? Ayat ini menjelaskan bahwa ketinggian Dzat-Nya tidak menafikan kebersamaan-Nya dengan kita melalui ilmu-Nya, penglihatan-Nya, pendengaran-Nya, dan kekuasaan-Nya yang meliputi segala sesuatu. Ketinggian-Nya adalah hakiki, dan kebersamaan-Nya juga hakiki, dalam cara yang layak bagi keagungan-Nya.

Manhaj Salafus Shalih dalam Memahami Istiwa'

Menghadapi ayat-ayat tentang sifat Allah, terutama yang terkesan menyerupai makhluk (mutasyabihat), para ulama generasi awal Islam—yaitu para sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in, yang dikenal sebagai Salafus Shalih—memiliki sebuah metodologi (manhaj) yang baku dan konsisten. Manhaj ini berdiri di atas prinsip-prinsip yang agung untuk menjaga kesucian akidah dari penyimpangan.

Prinsip Utama: Itsbat bila Takyif, Tanzih bila Ta'thil

Kaidah emas para salaf dalam memahami sifat Allah dapat diringkas dalam kalimat: "Menetapkan sifat tanpa menanyakan 'bagaimana' (takyif), dan menyucikan Allah dari penyerupaan tanpa menolak sifat (ta'thil)." Mari kita bedah prinsip ini:

  1. Al-Itsbat (Menetapkan): Mereka menetapkan apa yang Allah tetapkan untuk diri-Nya dan apa yang Rasulullah tetapkan untuk-Nya. Jika Al-Qur'an mengatakan Allah ber-Istiwa', maka mereka beriman dan menetapkan bahwa Allah benar-benar memiliki sifat Istiwa'. Mereka tidak menolaknya atau mencari-cari makna lain.
  2. Bila Takyif (Tanpa Bertanya 'Bagaimana'): Mereka meyakini bahwa hakikat atau kaifiyat (tata cara) dari sifat tersebut tidak dapat dijangkau oleh akal manusia. Akal kita terbatas, sementara Dzat dan sifat Allah tidak terbatas. Mereka menyerahkan pengetahuan tentang 'bagaimana' Istiwa' itu terjadi kepada Allah semata.
  3. At-Tanzih (Menyucikan): Mereka senantiasa menyucikan Allah dari segala bentuk penyerupaan dengan makhluk-Nya. Keyakinan ini didasarkan pada ayat yang fundamental: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ ("Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat"). Istiwa' Allah tidak sama dan tidak bisa dibandingkan dengan bersemayamnya seorang raja di singgasananya.
  4. Bila Ta'thil (Tanpa Menolak/Meniadakan): Dalam upaya mereka menyucikan Allah, mereka tidak jatuh ke dalam penolakan makna sifat itu sendiri. Mereka tidak mengatakan bahwa Istiwa' itu tidak punya makna, atau maknanya adalah sesuatu yang lain sama sekali. Mereka menetapkan maknanya (yaitu ketinggian yang layak bagi Allah) namun menolak untuk membayangkan kaifiyatnya.

Perkataan Emas Imam Malik

Salah satu pernyataan paling terkenal yang merangkum manhaj salaf dalam masalah ini datang dari Imam Malik bin Anas, pendiri Mazhab Maliki. Ketika beliau ditanya tentang firman Allah "Ar-Rahman 'alal 'arsyistawa", bagaimana Istiwa'-Nya? Beliau terdiam sejenak hingga berkeringat, lalu menjawab dengan jawaban yang menjadi pedoman bagi Ahlus Sunnah wal Jama'ah:

الِاسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُولٍ، وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُولٍ، وَالْإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

"Istiwa' itu maknanya maklum (diketahui), kaifiyatnya (tata caranya) tidak dapat dijangkau akal, beriman kepadanya adalah wajib, dan bertanya tentangnya (tentang kaifiyatnya) adalah bid'ah."

Mari kita telaah empat poin penting dalam pernyataan Imam Malik ini:

Pandangan Para Imam Mazhab Lainnya

Sikap Imam Malik ini juga merupakan sikap para imam besar lainnya. Imam Abu Hanifah, Imam Asy-Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hanbal—bersama dengan ulama-ulama besar lainnya seperti Sufyan Ats-Tsauri, Al-Auza'i, dan Abdullah bin Mubarak—semua berada di atas manhaj yang sama. Mereka semua menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana datangnya dalam nash (teks Al-Qur'an dan Sunnah) tanpa takyif, tasybih, ta'thil, maupun tahrif (mengubah makna).

Imam Al-Auza'i berkata, "Kami dahulu—sementara para tabi'in masih banyak—mengatakan: Sesungguhnya Allah Ta'ala di atas 'Arsy-Nya, dan kami beriman pada sifat-sifat-Nya yang tersebut dalam Sunnah." Ini menunjukkan bahwa akidah ini adalah akidah yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi terbaik umat Islam.

Perkembangan Pandangan Kalam dan Jawaban Atasnya

Seiring berjalannya waktu dan masuknya pemikiran filsafat Yunani ke dalam dunia Islam, muncullah berbagai pendekatan teologis (kalam) yang mencoba memahami sifat-sifat Allah dengan metode yang berbeda dari manhaj salaf. Pendekatan ini lahir dari niat baik untuk menyucikan Allah dari penyerupaan dengan makhluk, namun terkadang metode yang digunakan justru menjauh dari pemahaman para generasi awal. Dua metode utama yang berkembang adalah ta'wil dan tafwidh.

Metode Ta'wil (Interpretasi Metaforis)

Ta'wil adalah memalingkan lafaz dari makna lahiriahnya (zhahir) ke makna lain yang dianggap lebih sesuai (majaz), dengan alasan adanya dalil yang menghalangi pemaknaan secara lahiriah. Dalam kasus Istiwa', para penganut metode ta'wil khawatir jika dimaknai secara lahiriah (tinggi di atas 'Arsy) akan membawa konsekuensi bahwa Allah bertempat, membutuhkan 'Arsy, dan menyerupai makhluk. Oleh karena itu, mereka men-ta'wil kata "Istiwa'" dengan makna-makna lain, seperti:

Meskipun niatnya baik, ta'wil semacam ini mendapat kritikan tajam dari para ulama yang berpegang pada manhaj salaf. Beberapa kritik utamanya adalah:

  1. Tidak Sesuai dengan Bahasa Arab: Kata "Istiwa'" jika digandengkan dengan preposisi "'ala" (على) dalam bahasa Arab secara konsisten memiliki makna ketinggian dan berada di atas. Memaknakannya sebagai "menguasai" adalah makna yang asing dan tidak dikenal dalam syair-syair Arab klasik.
  2. Menimbulkan Konsekuensi yang Keliru: Jika "Istiwa'" dimaknai "menguasai", maka akan muncul pertanyaan: Apakah sebelum itu Allah belum menguasai 'Arsy? Tentu ini adalah keyakinan yang batil, karena Allah adalah Penguasa segala sesuatu sejak azali. Ta'wil ini justru mengesankan adanya perubahan pada sifat kekuasaan Allah.
  3. Membuka Pintu Penafsiran Liar: Jika satu sifat boleh di-ta'wil dengan alasan logika, maka sifat-sifat lainnya pun bisa diperlakukan sama. Ini bisa berujung pada penolakan hampir seluruh sifat Allah, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok ekstrem seperti Mu'tazilah.
  4. Menyelisihi Pemahaman Salaf: Tidak ada satu pun riwayat yang shahih dari para sahabat atau tabi'in bahwa mereka men-ta'wil Istiwa' dengan makna "menguasai". Mereka semua memahaminya sesuai makna lahiriahnya yang layak bagi keagungan Allah.

Metode Tafwidh (Menyerahkan Makna)

Metode tafwidh, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian ulama kalam muta'akhirin (generasi belakangan), adalah meyakini lafaz ayat tersebut namun menyerahkan maknanya secara total kepada Allah. Mereka mengatakan, "Kami membaca 'Ar-Rahman 'alal 'arsyistawa', kami beriman padanya, tapi kami tidak tahu sama sekali apa maknanya. Hanya Allah yang tahu."

Pandangan ini sekilas tampak lebih selamat, namun ia juga berbeda dengan manhaj salaf. Perbedaannya terletak pada apa yang diserahkan (di-tafwidh-kan):

Kritik terhadap tafwidh al-ma'na adalah bahwa ia seolah-olah menganggap Al-Qur'an diturunkan dengan lafaz-lafaz yang tidak memiliki makna yang bisa dipahami oleh manusia, seperti rangkaian huruf acak. Ini bertentangan dengan fungsi Al-Qur'an sebagai petunjuk yang jelas (hudan) dan penjelas (bayan). Bagaimana mungkin Allah memerintahkan kita untuk mentadabburi Al-Qur'an jika bagian-bagian terpenting di dalamnya (tentang sifat-Nya) sama sekali tidak bisa dipahami maknanya?

Analisis Mendalam dan Jawaban Atas Kerancuan

Setelah memahami dalil dan pandangan para ulama, penting bagi kita untuk menjawab beberapa kerancuan (syubhat) yang sering dilemparkan seputar akidah Istiwa'.

Kerancuan 1: "Jika Allah di Atas 'Arsy, Berarti Allah Membutuhkan Tempat (Makan)."

Ini adalah kerancuan yang paling umum. Jawabannya adalah sebagai berikut:

Kebutuhan akan tempat adalah sifat makhluk yang terbatas. Allah adalah Al-Ghani (Maha Kaya) dan Al-Qayyum (berdiri sendiri dan mengurus makhluk-Nya). Dia tidak membutuhkan apapun dari makhluk-Nya, termasuk 'Arsy. Justru 'Arsy dan seluruh makhluk-lah yang membutuhkan Allah agar tetap ada. Allah berada di atas 'Arsy bukan karena kebutuhan, melainkan karena itu adalah konsekuensi dari sifat ketinggian dan keagungan-Nya. 'Arsy ditegakkan oleh kekuasaan Allah, bukan sebaliknya. Para ulama salaf mengatakan, "Allah ber-Istiwa' di atas 'Arsy sebelum Dia menciptakan konsep 'tempat' itu sendiri." Istiwa'-Nya adalah sifat kesempurnaan, bukan sifat kekurangan (kebutuhan).

Kerancuan 2: "Menetapkan Arah 'Atas' (Jihah) bagi Allah Berarti Membatasi-Nya."

Jawabannya adalah kita harus membedakan antara dua hal: (1) arah yang bersifat makhluk dan terbatas, dan (2) arah 'atas' yang merupakan konsekuensi dari sifat ketinggian ('Uluw) Dzat Allah. Ketika kita menetapkan bahwa Allah berada di atas, kita tidak sedang membayangkan Dia berada dalam sebuah ruang terbatas seperti langit atau 'Arsy. 'Arsy, meskipun merupakan makhluk terbesar, tetaplah terbatas, sementara Allah tidak terbatas. Sifat ketinggian Allah adalah ketinggian absolut yang tidak terlingkupi oleh apapun. Seluruh alam semesta, termasuk 'Arsy, berada di "bawah" genggaman kekuasaan-Nya. Menetapkan sifat 'Uluw justru menegaskan ketidakterbatasan-Nya dan keterpisahan-Nya yang sempurna dari makhluk.

Kerancuan 3: "Bagaimana Menggabungkan antara Istiwa' di Atas 'Arsy dengan Kebersamaan (Ma'iyyah) Allah dengan Kita?"

Sebagaimana telah disinggung dalam pembahasan Surah Al-Hadid ayat 4, Ahlus Sunnah wal Jama'ah meyakini kedua sifat ini secara bersamaan tanpa kontradiksi. Ketinggian (Istiwa' dan 'Uluw) merujuk pada ketinggian Dzat Allah yang Maha Agung. Sementara kebersamaan (Ma'iyyah) merujuk pada sifat-sifat-Nya yang meliputi segala sesuatu, seperti ilmu-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, kekuasaan-Nya, dan penjagaan-Nya.

Ini bukanlah hal yang sulit dipahami. Kita sering menggunakan konsep serupa dalam kehidupan sehari-hari. Kita mengatakan "bulan bersama kita" saat kita berjalan di malam hari, padahal kita tahu bulan berada jauh di langit. Tentu ini hanya perumpamaan, dan bagi Allah perumpamaan yang jauh lebih tinggi. Dzat-Nya tinggi di atas seluruh makhluk-Nya, namun tidak ada satupun daun yang gugur atau bisikan hati yang terucap melainkan berada dalam liputan ilmu dan kekuasaan-Nya. Ketinggian Dzat-Nya dan keluasan ilmu-Nya adalah dua sifat kesempurnaan yang tidak saling menafikan.

Buah Keimanan Terhadap Sifat Istiwa'

Mengimani sifat Istiwa' dan 'Uluw Allah dengan benar akan membuahkan hasil yang manis dalam hati dan amal seorang hamba. Di antaranya:

Kesimpulan: Jalan Keselamatan dalam Berakidah

Pembahasan mengenai sifat Istiwa' Allah di atas 'Arsy adalah salah satu pilar utama dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Jalan yang paling selamat dan paling sesuai dengan petunjuk Al-Qur'an dan Sunnah adalah mengikuti jejak para salafus shalih. Yaitu dengan menetapkan sifat ini sebagaimana yang Allah tetapkan untuk diri-Nya, dengan makna ketinggian dan keagungan yang layak bagi-Nya, tanpa menanyakan 'bagaimana' (takyif), tanpa menyerupakan dengan makhluk (tasybih), tanpa menolaknya (ta'thil), dan tanpa mengubah maknanya (tahrif).

Kita beriman bahwa Allah, Ar-Rahman, ber-Istiwa' di atas 'Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, namun ilmu, kekuasaan, pendengaran, dan penglihatan-Nya meliputi segala sesuatu. Istiwa' adalah sifat kesempurnaan dan keagungan, bukan sifat kebutuhan atau keterbatasan. Dengan memegang teguh akidah ini, seorang Muslim telah mengagungkan Rabb-nya sebagaimana Dia seharusnya diagungkan, dan menapaki jalan lurus yang telah ditempuh oleh generasi terbaik umat ini.

🏠 Homepage